jump to navigation

Menanamkan Budi Pekerti melalui Dongeng Maret 19, 2010

Posted by nurwahyudi7 in ARTIKEL, PANYARUWE.
Tags:
trackback

Oleh : Nurwahyudi7  (SMP NEGERI 1 PITU NGAWI)

(KLIK BASA JAWA)

Dongeng merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di masayarakat. Istilah dongeng dapat dipahami sebagai cerita yang dibuat-buat, tidak pernah terjadi, dan terkadang tidak masuk akal. Dalam dongeng biasanya juga tidak dikenal siapa pengarangnya, kapan waktu terjadinya, dan dimana kejadian sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, biasanya dongeng mentradisi pada masyarakat melalui tutur lisan, memiliki ciri tidak logis, dan cenderung membesar-besarkan sebuah peristiwa.

Walaupun dongeng cenderung tidak logis, namun biasanya rakyat penikmat dongeng menjadi sangat tertarik justru karena ketidak logisannya itu. Hal-hal yang secara nalar tidak masuk akal, justru menjadi kekuatan tersendiri menjadi kekuatan super natural, kekuatan kosmis, kekuatan gaib, dan lain sebagainya.

Dari kekuatan itulah cerita rakyat ini terbentuk karakteristiknya. Rakyat menjadi mudah memahami, mudah menerima, dan mudah percaya. Cerita yang semula tidak ada, dipercaya menjadi seolah-olah nyata terjadi. Pendeknya, rakyat begitu meyakini apa-apa yang  terjadi pada dongeng, seolah-olah kejadian yang terjadi pada dongeng adalah sebuah kejadian yang benar-benar terjadi.

Tema yang dipilih dalam dongeng juga mencerminkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat umum. Ini menambah kekuatan lagi bagi cerita rakyat ini untuk bisa diterima oleh masyarakat yang menikmatinya. Karena tema yang disajikan sangat kental dengan masyarakat, maka dongeng menjadi sangat akrab di telinga dan di hati rakyat. Tema yang biasanya terjadi di masyarakat yang kemudian banyak dijadikan tema sentral dalam dongeng antara lain : 1) kebenaran selalu mengalahkan kejahatan, 2) cinta sejati, 3) kekuatan Tuhan adalah kekuatan tertinggi, 4) kesetiakawanan, 5) kebusukan yang disembunyikan pada akhirnya akan terbongkar juga, 6) sifat kesatria; dan sebagainya.

Kalau kita cermati, tema-tema yang ada pada dongeng tersebut hampir selalu berkaitan dengan masalah benar-salah dan baik-buruk. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dituangkan dalam tema sebuah dongeng hampir selalu berkaitan dengan nilai moral dan budi pekerti. Rakyat akan dapat memahami bahwa siapa yang jahat pada akhirnya akan terkalahkan oleh kebenaran, siapa yang  berbuat curang suatu saat akan terbongkar, siapa yang tidak berbakti pada orang tua, guru, dan Tuhan akan mendapat siksa, siapa yang tidak sabar akan menuai celaka, dan sebagainya.

Nilai-nilai budi pekerti yang muncul dalam dongeng antara lain adalah sifat: sholeh, pekerja keras, lemah lembut, jujur, berbakti, hemat, ikhlas, kesatria, sabar, disiplin, percaya diri, rendah hati, memiliki rasa malu, setia, adil, kasih sayang, bijaksana, empati, pemurah, sopan, suka bekerja sama, tegar, tanggung jawab, tekun, menghargai orang lain, tepat waktu, sportif, pemaaf,  hormat, dan amanah.

Nilai-nilai budi pekerti yang terdapat dalam dongeng tersebut diharapkan dapat membentuk sikap dan perilaku penikmat dongeng dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, orang tua, keluarga, masyarakat, negara, sesama makhluk, bahkan kepada lingkungan alam di sekitarnya.

Sementara itu, dalam pembelajaran di sekolah, dongeng menjadi salah satu bahan pembelajaran yang sering digunakan bagi mata pelajaran bahasa (bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggis) dan atau pelajaran lain yang sesuai.

Siswa terkadang telah mengenal bahkan mungkin sudah hafal dengan salah satu atau beberapa dongeng. Sebut saja misalnya, dongeng Malin Kundang. Hampir semua siswa telah mengenal dongeng yang bersifat legenda tersebut. Siswa akan sangat memahami, dari dongeng tersebut dapat dipetik sebuah pesan moral bahwa barang siapa yang berani kepada orang tua akan menjadi anak durhaka. Dan pada gilirannya akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa.

Contoh lagi misalnya, cerita rakyat Bawang Merah Bawang Putih. Mungkin sebagian besar siswa telah mengenal dan mengerti perihal dongeng tersebut. Dari dongeng Bawang Merah Bawang Putih tersebut dapat diambil pesan moral bahwa kejahatan pada akhirnya akan terkalahkan oleh kelembutan dan kebenaran.

Dalam dongeng lain dari daerah Banyuwangi misalnya, di sana terkandung pesan moral yang besar bahwa siapa yang berbuat baik atau buruk akan terlihat di kemudian hari atau kalau dalam istilah Jawa becik ketitik, ala ketara.

Pesan moral mengenai nilai-nilai budi pekerti yang disampaikan dalam dongeng tersebut tentu akan dapat bermanfaat bagi sikap, perilaku dan perkembangan siswa. Oleh karena itu dongeng dapat dijadikan sebuah sarana pembelajaran moral dari mulai  Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, sampai Sekolah Lanjutan. Tentu saja penyajian dongeng harus diselaraskan dengan usia siswa atau tingkatan sekolahnya agar pesan moral yang disampaikan dapat tepat sasaran.

Mengajarkan budi pekerti tidak selamanya harus diterangkan secara gamblang kepada siswa. Di sekolah, pembelajaran dongeng biasanya disajikan dalam pelajaran menyimak (membaca dan mendengarkan), menulis, dan berbicara. Dari situ siswa dapat melakukan eksplorasi kehidupan, berimajinasi, dan berkreasi. Nilai-nilai budi pekerti yang ada pada dongeng, akan terus dibawa siswa dalam kegiatannya dalam mengeksplorasi kehidupan, berimajinasi, dan berkreasi tersebut.

Nilai budi pekerti yang tertanam dalam kegiatan tersebut akan menghasilkan keputusan-keputusan siswa dalam rangka menemukan nilai-nilai kebenaran. Siswa akan membuat keputusan bahwa nilai-nilai buruk akan membuahkan mala petaka di kemudian hari, sebaliknya nilai-nilai kebaikan akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari.

Sebagai contoh, misalnya dalam pelajaran bahasa Jawa, dalam sebuah kegiatan pembelajaran, siswa mendapat tugas untuk menulis dongeng. Dongeng yang ditulis dapat berupa dongeng yang telah dikenal siswa, atau siswa juga dapat menulis dongeng menurut imajinasinya. Dalam proses menulis dongeng tersebut, akan terjadi proses pemikiran dan pengambilan keputusan. Siapapun yang ditokohkan oleh siswa dalam dongeng yang ditulisnya, siswa akan mengetahui bahwa tokoh jahat pada akhirnya akan terkalahkan oleh tokoh yang baik, atau anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa, atau keputusan-keputusan lain yang mencerminkan pilihan sikap siswa yang logis sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti.

Selama pembelajarannya benar, mustahil siswa akan membuat keputusan-keputusan yang bersifat mengingkari nilai-nilai budi pekerti. Misalnya, sangat tidak mungkin apabila siswa akan mengakhiri cerita dengan keputusan bahwa anak durhaka akan masuk surga, dan sebagainya.

Jelaslah bahwa, pengajaran dongeng pada siswa dapat membentuk watak, sikap dan perilaku yang benar. Sehingga dalam mengambil keputusan, pola pikir siswa telah termotivasi oleh nilai-nilai budi pekerti yang diketahuinya. Apabila siswa telah terbiasa berpikir dan bertindak dengan landasan nilai-nilai budi pekerti maka dalam kesehariannya siswa juga akan selalu berusaha mendasarkan sikap dan perilakunya itu pada nilai-nilai budi pekerti yang telah dimilikinya.

***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: